Info Dunia Kehidupan Artis dan Tips Kesehatan Terbaru 2015

DILEMA PENGUSAHA DAN MASYARAKAT DITENGAH RUPIAH ANJLOK Dampak Kenaikan Harga Barang Terhadap Masyarakat Kecil

Cara Cepat Hamil Alami Rahasia Dokter

DILEMA PENGUSAHA DAN MASYARAKAT DITENGAH RUPIAH ANJLOK Dampak Kenaikan Harga Barang Terhadap Masyarakat Kecil. Nilai tukar rupiah berhasil menguat tipis sebesar 28 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang mencapai Rp13.237 per dolar AS.

DILEMA PENGUSAHA DAN MASYARAKAT DITENGAH RUPIAH ANJLOK

Dengan demikian, untuk pertama kalinya setelah enam hari berturut-turut berada di zona merah maka rupiah dapat sedikit bernapas lega dengan terkerek naik ke level Rp13.209 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2015.

Namun, penguatan ini jangan langsung disambut gembira karena nilai rupiah ternyata masih jauh meroket dibandingkan asumsi makro yang ditetapkan pemerintah dalam APBN-P 2015 sebesar Rp12.500 per dolar AS.

Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro menyampaikan, Selasa, 17 Maret 2015, dalam jangka pendek tidak ada yang bisa dilakukan pemerintah untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Apalagi, kata Bambang, faktor penyebab utamannya adalah gejolak ekonomi global akibat penguatan ekonomi AS saat ini. Akan tetapi, dia menegaskan bahwa koordinasi dengan otoritas moneter, yaitu Bank Indonesia (BI) terus diperkuat sehingga bauran kebijakan yang dikeluarkan efektif untuk meredam anjloknya rupiah akhir-akhir ini.

"Kalau (kebijakan) jangka pendek itu ada di BI," tuturnya.

Untuk diketahui, berdasarkan pantauan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah sempat menembus rekor baru terburuknya sejak krisis moneter 1998 yang menyentuh Rp17 ribu. Pada perdagangan Senin, 16 Maret 2015, rupiah tembus ke level Rp13.237 per dolar AS.

Menanggapi hal tersebut, Bambang menegaskan, yang dilakukan pemerintah adalah bagaimana mengantisipasi dampak pelemahan ini dalam jangka menegah dan panjang. Salah satunya, menurut dia, dengan memperkuat neraca transaksi berjalan yang saat ini masih defisit.

Untuk mewujudkan hal itu, lanjutnya, pemerintah telah mengumumkan empat paket kebijakan yang akan diterapkan dalam waktu dekat. Paket kebijakan tersebut, antara lain pertama adalah pemberian insentif pajak, yaitu revisi Peraturan Pemerintah PP No 52 Tahun 2011, tentang pengurangan pajak untuk investasi tertentu (tax allowance).

"Insentif ini akan diberikan untuk investasi yang menciptakan lapangan pekerjaan, menggunakan kandungan lokal, berorientasi ekspor minimal 30 persen dan melakukan research and development di perusahaan tersebut. Tax allowance juga akan diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang melakukan reinvestasi laba yang didapatkan dari dividen," jelasnya.

Selain itu, pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk mendorong sektor logistik. Salah satunya untuk galangan kapal, industri kereta api, angkutan udara dan sejenisnya.

***

Kebijakan kedua, yaitu mengenai perlindungan produk dalam negeri. Adapun kebijakan yang akan dilakukan, antara lain pengenaan bea masuk antidumping sementara dan bea masuk tindak pengamanan sementara terhadap produk industri impor yang diduga melakukan unfair trade atau praktek perdagangan tidak fair.

Kebijakan lainnya adalah penerapan letter of credit untuk produk sumber daya alam, misalnya batu bara, migas dan CPO. Kemudian restrukturisasi dan revitalisasi industri reasuransi domestik akan dilakukan.

Sementara itu, kebijakan ketiga diarahkan guna mendorong devisa dari sektor pariwisata. Dengan membebaskan visa kunjungan singkat wisatawan kepada 30 negara sehingga total menjadi 45 negara.

"Dan yang keempat mewajibkan penggunaan biofuel sebesar 15 persen dalam kandungan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar," tegasnya.

Pasar panik, pengusaha 'menjerit'

Akan tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa dengan melemahnya rupiah yang terus bertahan di level psikologis Rp13 ribu telah memberikan kepanikan bagi para pelaku pasar.

Tak hanya itu, para pengusaha tampaknya juga mengeluhkan kondisi pelemahan rupiah yang belum diketahui kapan berhentinya. Bahkan, tak sedikit di antara pengusaha 'menjerit' karena bisnis yang dijalaninya harus mengalami kelesuan.

Importir ponsel, misalnya mengakui pelemahan nilai tukar rupiah telah berdampak kepada bisnisnya. Bahkan, pengusaha harus memotong impornya demi menekan risiko pelemahan kurs.

Ketua Asosiasi Importir Seluler Indonesia, Eko Nilam, mengatakan pelemahan nilai tukar ini membuat mereka untuk melakukan dua hal, yakni menaikkan harga ponsel dan menurunkan impor barang.

"Kami antisipasi, apakah melemahnya nilai tukarnya sampai di sini atau melemah terus," kata Eko di Jakarta, ketika dihubungi, Selasa 17 Maret 2015.

Pihaknya pun menaikkan harga ponsel hingga sebesar 10 persen. Pemicunya adalah pelemahan nilai tukar dan kondisi ini sudah berlaku sejak sebulan yang lalu.

***

"Pasar juga wait and see. Banyak calon pembeli yang menunggu dolar turun. Kami juga menunggu dolar turun dua bulan ini, tapi tidak ada tan-tanda dolar turun," kata dia.

Selanjutnya, mereka menurunkan impor 20 persen untuk mengurangi risiko pelemahan kurs. "Impor ponselnya turun 20 persen selama dua bulan terakhir. Harusnya target impornya 110 juta unit tahun ini. Dengan keadaan ini, kami belum bisa pastikan apakah targetnya akan tercapai," ungkap Eko.

Selain itu, Eko pun menyebutkan kalau kondisi pelemahan nilai tukar membuat pasar lesu. Oleh karena itulah, peluncuran beberapa ponsel terpaksa ditunda.

"Saya mendapatkan laporan ada 3-4 tipe ponsel yang launchingnya ditunda karena melihat pasar lemah. Peluncuran ponsel yang sudah diagendakan, ditunda," jelasnya.

Senada dengan Eko, para pengusaha lainnya juga mengeluhkan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi akhir-akhir ini. Hal tersebut dinilai karena pelemahan rupiah telah memukul hampir semua sektor bisnis.

"Hampir semua sektor terkena masalah ini semua, terutama sektor yang menggunakan komponen produksinya mayoritas dari impor," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani.

Hariyadi mengungkapkan, pelemahan nilai tukar ini membuat pengusaha juga mengurangi kapasitas produksinya. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kerugian dari pelemahan nilai tukar.

"Misalnya output biasanya US$10 miliar. Dengan adanya pelemahan ini, output harus dikurangi. Kalau tidak, barangnya tidak akan terjual," tegasnya.

Dia juga mencontohkan, sektor otomotif. Sektor ini terdampak dari depresiasi nilai tukar.

Penguatan dolar telah membuat harga komponen impor menjadi naik dan bisa berpengaruh terhadap harga jual produk. Untuk mensiasatinya, produsen pun mengurangi produksinya.

"Bisa hingga lima persen," tutur Hariyadi.

Di sisi lain, Ketua Umum DPP REI, Eddy Hussy memperkirakan, dampak pelemahan rupiah akan memperlambat bisnis properti.

Eddy menjelaskan, kalau kaitan langsung terhadap harga, itu masih belum ada. Akan tetapi, dengan menguatnya harga dolar ini, pasar properti tentu akan sedikit melambat.

"Dengan dolar menguat, sebagian orang akan mengerem pembeliannya. Dan sebagian mereka mungkin akan fokus membeli dengan dolar. Oleh karena itu, pasar properti tentu akan sedikit melambat," katanya.

Antisipasi pelaku pasar

Dalam hal ini, Ekonom BCA, David Sumual mengatakan, yang dapat diantisipasi oleh pelaku pasar terhadap melemahnya nilai tukar mata uang rupiah adalah dengan melakukan lindung nilai atau hedging.

"Industri yang utang luar negerinya tinggi, yang valasnya tinggi tapi penghasilannya menggunakan rupiah, kemudian yang bahan bakunya impor, seperti susu, gandum, garam, kapas, atau komponen sparepart sebaiknya mereka hedging," ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa, 17 Maret 2015.

***

Menurut David, sektor yang terkena dampak pelemahan rupiah adalah industri yang menggunakan bahan bakunya impor. "Sektor apa aja yang kena dampak, yang pasti orientasi pasar dalam negeri yang mengunakan bahan baku impor. Banyak sektor yang bahan baku impornya 90 persen," tuturnya.

Dia menyatakan bahwa perusahaan yang bergerak di sektor riil cenderung enggan mengasuransikan posisi open eksposurenya sehingga ketika rupiah melemah maka mayoritas pengusaha tersebut mengalami kerugian dalam jumlah besar.

David menyebut, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat lantaran ada sentimen dari kebijakan pemerintah.

"Saya pikir sih memang ada faktor itu juga ya. Harapannya ini implementasinya segera dilakukan. Tapi kan ini dampaknya belum kelihatan karena jangka panjang. Mungkin ini baru sebatas sentimen saja," terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP REI, Eddy Hussy menyampaikan, pihaknya tidak ada antisipasi khusus. Alasannya, karena pelemahan rupiah terhadap dolar AS adalah hal yang biasa.

"Setiap dolar bergerak itu, bisnis pasti akan melambat karena orang akan melihat. Namun, sejauh ini pengaruhnya tidak terlalu mengkhawatirkan," tambah Eddy.


Cara Cepat Hamil Alami Rahasia Dokter

Like dan share ya sobat...
Link Artikel: http://beritainfosehat.blogspot.com/2015/03/dilema-pengusaha-dan-masyarakat.html
Rating Artikel: 100% based on 9999 ratings. 99 user reviews.

Comments :

No comments:

Post a Comment