Info Dunia Kehidupan Artis dan Tips Kesehatan Terbaru 2015

KONDISI GARUDA RAKSASA PENINGGALAN SOEHARTO Fakta Bangunan Garuda Raksasa Sukses Sea Games 1997

Cara Cepat Hamil Alami Rahasia Dokter

KONDISI GARUDA RAKSASA PENINGGALAN SOEHARTO Fakta Bangunan Garuda Raksasa Sukses Sea Games 1997. Bangunan Garuda raksasa peninggalan Soeharto sempat berdiri di kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Namun kini bangunan ini sudah tinggal kenangan, tak satu pun sisa-sisa bangunan megah ini tersisa di lokasinya tersebut.

KONDISI GARUDA RAKSASA PENINGGALAN SOEHARTO

Bangunan yang terletak di Jl Narogong KM 23, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, ini sudah tak tersisa lagi. Bagian depan bangunan bernama Graha Garuda Tiara Indonesia ini dipenuhi lapak-lapak pedagang. Sedangkan bagian dalam lahan bangunan ini sudah dikeruk tanahnya. Terlihat sisa-sisa kerukan terdapat di lahan yang luas ini, Jumat (17/4/2015).

Padahal pada November 2008 lalu bangunan ini masih berdiri. Sempat berkeliling di bangunan yang sudah banyak mengalami kerusakan ini. Meski banyak kaca yang pecah dan lantai yang berdebu, namun struktur bangunan ini masih utuh dan berbentuk Garuda raksasa.

Berikut ini adalah 5 Fakta bangunan Garuda raksasa yang awalnya dibangun untuk menyukseskan Sea Games 1997 ini:

1. Mbak Tutut Kerap Kunjungi Bangunan itu


Saat masih berdiri, Dulu, putri Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau yang biasa disapa Mbak Tutut, kerap bertandang. Biasanya, Tutut menghabiskan akhir pekan di bekas wisma yang terletak 30 kilometer dari Jakarta ini.

"Sebulan sekali sering ke sini, biasanya akhir pekan," ucap petugas keamanan, sebut saja Agus, saat ditemui di lokasi, Kamis (27/11/2008) silam.

Bahkan, terkadang Mbak Tutut bersama beberapa keluarganya menginap di hotel atau sekedar berkunjung saja. "Mungkin beliau mantau, melihat-lihat saja di sini," jelasnya.

2. Dibangun 1995, Mangkrak 1998 dan Rata Tahun 2014


Proyek prestisius bernama Graha Garuda Tiara Indonesia (GGTI) memakan ongkos fantastis, disebut-sebut senilai Rp 75 miliar, dengan kurs kala itu Rp 2.194 per dolar AS. Proyek yang terletak di Jl Narogong Km 23, Cileungsi, Bogor, Jabar, ini dibangun mulai Februari 1995.

Pengerjaan dihentikan sementara pada akhir 1995, namun dilanjutkan lagi pada Agustus 1996. Pekerjaan dikebut siang malam hingga Oktober 1996. Bangunan telah terlihat jadi dan rombongan tamu mulai berdatangan. Bangunan berbentuk burung Garuda Pancasila ini sedianya akan digunakan sebagai wisma atlet yang konon untuk menyaingi kawasan olahraga Senayan peninggalan Bung Karno.

Kompleks Garuda Tiara ini terdiri atas wisma A, B, C, D, dan E, yang merupakan bagian sayap dan masing-masing terdiri dari 3 lantai dengan total 456 kamar. 1 Kamar bisa diisi 4 orang itu untuk yang D dan E. Kalau yang A,B, dan C 1 kamar bisa diisi 8 orang.

Bagian dada dan kepala Garuda terdapat lobi dan ruang konvensi yang mampu menampung 3 ribu orang.

Sedang di bagian ekor diperuntukkan bagi hotel dengan 196 kamar. Ada juga lapangan parkir yang luas hingga menampung 100 bus, dan landasan helipad. Fasilitas olahraga juga tersedia yang terdiri dari 2 lapangan tenis, 2 lapangan basket, dan 2 lapangan voli serta 2 kolam renang.

Pembangunan gedung ini terhenti pada 1998 setelah 80 persen jadi, seiring dengan jatuhnya Presiden Soeharto. Hingga kemudian netizen dikejutkan dengan penampakannya lewat google earth 10 tahun kemudian. Tapi sayang, ketika didatangi detikcom saat itu, bangunan itu telah ditutupi ilalang dan debu. Gedung hanya dijaga puluhan satpam yang mencoba menghalau pencuri yang mengincar baja-baja gedung.

3. Sempat Dibakar dan Dijarah Habis-habisan


Sebelum rata dengan tanah, Garuda raksasa peninggalan Soeharto mengalami masa-masa sendu. Bangunan megah di kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, ini sempat dibakar dan dijarah habis-habisan.

"Dulu sempat dijarah habis-habisan dan juga dibakar," kata Bambang Wicaksono, mantan pengurus Graha Garuda Tiara Indonesia (GGTI), Jumat (17/4/205).

Bambang mengatakan, peristiwa itu terjadi pada tahun 2013. Tahun itu merupakan hari-hari terakhir dia bekerja menjadi pengurus bangunan itu.

"Memang ada orang yang tak suka. Dibakar sehingga kebakaran satu area bangunan. Habis barang-barangnya. Selain itu juga ada satu bangunan yang sempat roboh," katanya.

Saat ditanya siapa penjarah bangunan tersebut, Bambang mengaku tak mengetahuinya secara pasti. "Kalau orangnya saya tak tahu pasi, tapi bukan warga sekitar situ," katanya.

Bambang mengaku tak mengetahui pasti kapan persisnya bangunan ini dibongkar. Karena dia sudah tak bekerja lagi di kawasan itu sejak tahun 2013. "Kalau kapan dibongkarnya saya tak tahu," katanya.

Mengenai soal status tanah di lokasi Garuda raksasa itu yang merupakan tanah negara, Bambang tak bisa memastikannya. "Kalau itu harus dicek lagi ke dokumen-dokumen yang ada," katanya.

4. Persembunyian Ekspatriat Saat Rusuh Mei '98


pada 1998 Graha Garuda Tiara Indonesia menjadi populer di kalangan ekspatriat. Bahkan beberapa di antaranya mengungsi ke kawasan yang masih hijau itu saat meletus kerusuhan Mei 1998.

Saat itu, di kompleks GGTI telah berdiri wisma, hotel dan ruang konvensi. Namun pembangunannya belum 100%. Meski demikian, tamu-tamu telah berdatangan. Rombongan Kirab Remaja Nasional juga selalu diinapkan di situ.

"Ada 150-an warga asing yang dahulu tinggal di sini sekitar 1 bulan. Mereka kebanyakan dari Jepang dan Korea.Waktu itu sedang kerusuhan Mei, jadi takut ke Jakarta. Mereka singgah di sini," jelas Narto (nama samaran), seorang petugas keamanan yang bergabung GTTI sedari awal, di lokasi, Kamis (27/11/2008).

Kompleks seluas 44 hektar yang terletak persis di pinggir jalan raya Narogong ini memang mudah dijangkau. "Di sini dekat dengan pabrik," tambahnya.

Tamu-tamu yang datang umumnya rombongan instansi pemerintah dari daerah. "Waktu itu Pak Dibyo Widodo (Kapolri saat itu) pada Juli tahun 1997 datang ke sini pakai helikopter. Meninjau kesiapan pasukan polisi yang mau merayakan ulang tahun polisi," urainya.

Ratusan polisi, kala itu, sebelum merayakan ulang tahun mereka di Jakarta membuat persiapan di situ. "Mereka latihan gladi resik, terus pas acaranya rombongan jalan ke Jakarta pakai puluhan bus," cerita Narto.

5. Eks Kebun Karet untuk Korban Petrus


Sebelum menjadi bangunan Garuda raksasa lokasi di Cileungsi ini adalah kebun karet seluas 44 hektar. Saat masih menjadi kebun karet, konon korban penembakan misterius (petrus) dibuang di situ.

"Cerita penduduk, di sini tempat pembuangan korban petrus dan yang lainnya," ucap seorang petugas keamanan sebut saja Johan saat ditemui di lokasi, Jl Narogong Km 23, Cileungsi, Bogor, atau sekitar 30 km dari Jakarta, Kamis (27/11/2008).

Karena itulah, saat kompleks tersebut mulai dibangun pada Februari 1995 dilakukan sejumlah ritual. "Ya selamatan dan potong sapi," ujar Johan yang menjadi tenaga keamanan sejak proyek puluhan miliar itu berdiri.

Setelah bangunan luas itu mangkrak pasca 1998, hawa misteri masih saja terasa. "Pernah ada investor datang ke sini, dia bawa orang pintar, katanya di sini ada penunggunya," cerita Johan.

Tapi selama 13 tahun bertugas, Johan mengaku dia tidak pernah bertemu atau diganggu makhluk halus.
"Alhamdulillah di sini aman-aman saja buat kita yang bertugas. Tidak pernah ketemu apa-apa," akunya.

Meski demikian, dia tidak memungkiri bila ada kalanya bulu kuduknya merinding saat melintas di kawasan belakang. Umumnya kala dini hari.

"Di sana di bagian belakang dekat hotel, ya kalau lewat merinding gitu. Tapi itu kan bagaimana orangnya," jelasnya. Hotel itu terletak di bagian ekor Garuda Pancasila raksasa itu.

KONDISI GARUDA RAKSASA PENINGGALAN SOEHARTO


Cara Cepat Hamil Alami Rahasia Dokter

Like dan share ya sobat...
Link Artikel: http://beritainfosehat.blogspot.com/2015/04/kondisi-garuda-raksasa-peninggalan.html
Rating Artikel: 100% based on 9999 ratings. 99 user reviews.

KONDISI GARUDA RAKSASA PENINGGALAN SOEHARTO Fakta Bangunan Garuda Raksasa Sukses Sea Games 1997

Posted by Berita Info Sehat, Published at 8:27 PM and have 0 comments
Comments :

No comments:

Post a Comment