Info Dunia Kehidupan Artis dan Tips Kesehatan Terbaru 2015

[Foto] Kisah Lengkap Peter Yan Supir Taksi Pintar Bahasa Jerman Inggris Lulusan Teknik Sipil Jerman

Cara Cepat Hamil Alami Rahasia Dokter

[Foto] Kisah Lengkap Peter Yan Supir Taksi Pintar Bahasa Jerman Inggris Lulusan Teknik Sipil Jerman. Meskipun usia telah memasuki paruh baya, semangat Peter Yan (58) untuk bekerja dan mengabdi kepada negeri tak pernah surut. Pria lulusan teknik sipil Technische Hochschule Darmstadt, Jerman ini masih mau menjadi sopir taksi untuk menguasai permasalahan klasik di Jakarta yang tak kunjung usai, yaitu kemacetan.

HEBOH Kisah Peter Yan Supir Taksi Pintar Bahasa Jerman Inggris Lulusan Teknik Sipil Jerman

Pria yang sempat menjadi dosen tamu mata kuliah Water and Transportation untuk kelas S2 Universitas Tarumanegara ini melayani penumpang dengan ramah dan menyetir taksi dengan nyaman. Sepanjang perjalanan pria yang berasal dari keluarga militer ini banyak bercerita tentang kemacetan di Jakarta dan berbagi pengalaman hidup.

Taksi bergerak dari Jl Sukarjo Wiryopranoto, Jakarta Pusat, dengan kecepatan rendah ke arah Warung Buncit, Jakarta Selatan. Kebetulan rute yang dilewati, hampir seluruhnya merupakan kawasan macet. Apalagi waktu saat itu menunjukkan pukul 15.30 WIB, hari Jumat. Di mana waktu tersebut merupakan saatnya orang-orang pulang bekerja dan bersiap menikmati akhir pekan.

"Nah dengan melintasi kemacetan seperti ini kan saya tahu di mana saja titik macet, kapan dan apa penyebabnya. Saya bisa saja memilih diam menghindari macet. Tapi kalau semua orang tak peduli, bagaimana kemacetan di Jakarta akan terselesaikan?" urai pria asal Kupang, NTT ini.

Peter mengaku telah melakukan banyak kajian untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Di antaranya dengan menyusun konsep pembuatan busway dan mendesain beberapa tol di Jakarta. Ia juga bercerita tentang kehidupannya, termasuk alasan memilih kuliah di Jerman.

"Nggak ada alasan khusus. Ya dulu anak 19 tahun mana mikir kampus mana-kampus mana, yang penting saya lulus SMA lalu bisa sekolah di luar negeri, itu keren sekali. Di Jerman lagi," katanya diiringi tawa.

Peter menghabiskan waktu di Jerman selama 13 tahun, yaitu dari tahun 1966 hingga awal tahun 1988. Sementara kuliahnya ia selesaikan selama 10 tahun, yaitu dari tahun 1977-1987.

"Kuliah saya gratis. Tapi saya harus kerja untuk penuhi kehidupan sehari-hari makanya lama," katanya sambil terkekeh.

Dari menjajakan koran hingga menjadi asisten dosen pernah dilakoninya selama di Jerman. Yang penting, pendidikan harus ia tuntaskan.

Di sana ia juga sempat berkeluarga. Peter menikah dengan seorang WNI yang juga kuliah di Jerman dan melahirkan putri mereka di sana. Pria bergelar Dipl-Ing ini kemudian kembali ke Indonesia setahun setelah lulus kuliah, yaitu tahun 1988.

Di Indonesia, Peter mempraktikkan ilmu yang didapatnya di Jerman dengan membuat berbagai desain tata kota. Tak sedikit karya Peter yang menurutnya dijadikan referensi oleh beberapa pemerintah daerah di Indonesia.

"Tahun 1991 saya dan 2 teman saya sudah bikin desain busway persis seperti yang digunakan saat ini," kata pria yang telah 6 bulan menjadi sopir taksi ini.

Namun menurut Peter, Pemprov DKI Jakarta kala itu belum berminat menggunakan desain yang diajukannya. Ia juga mengaku turut membuat desain sejumlah jalan layang di Jakarta.

Selain itu Peter juga membuat desain untuk pembangunan ribuan rumah pasca gempa yang mengguncang Aceh 2004 lalu. Ia juga mengajar di kampus swasta ternama di Jakarta, Universitas Tarumanegara untuk program Pasca Sarjana.

"Saya dosen tamu saja di sana (Untar). Ngajar mata kuliah Water and Transportation," ujar pria yang berusia 58 tahun ini.

Meskipun dosen tamu, Peter tampak cukup aktif di Untar. Dalam website resmi Untar, www.untar.ac.id, diceritakan bahwa Peter pernah menjadi panelis dalam diskusi panel bertajuk 'Jakarta Urban Movement (Flow-Behavior-Network)'. Peter memberikan pemaparan dengan judul 'Bergerak dalam Kemacetan Jakarta'.

Tak sia-sia, dengan menyematkan gelar Dipl-Ing di belakang namanya, ia pulang ke negeri ini dan membawa segudang ilmu teknik sipil. Peter kemudian banyak membuat konsep tentang tata kota, air dan transportasi hingga saat ini.

Di salah satu analisisnya, Peter melihat ada 700an simpul jalan yang salah. Karena itu, dia memberi tips agar pengendara bisa menghindari simpul tersebut, dan kepada Pemprov DKI agar memperbaikinya. Setelah itu, baru fokus pada penegakan hukum dan lainnya.

Narik Taksi Bawa Laptop Ingin Pelajari Kemacetan Jakarta


Sudah 6 bulan lamanya, Peter Yan Dipl-Ing menjalani profesi sebagai sopir taksi. Profesi tersebut dilakoninya tak hanya untuk mencari uang, namun juga demi penelitian kemacetan Jakarta. Bagaimana ceritanya?

Pria kelahiran Kupang Timur, 22 September 1957 ini adalah lulusan Jerman bidang teknik sipil. 13 Tahun lamanya ia tinggal di Jerman mendalami ilmu tersebut. Ia telah mempraktikkan ilmunya ke dalam dunia industri maupun pendidikan. Berbagai desain tata kota pernah ia buat. Dan terakhir, ia mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Tarumanegara Program S2 Teknik Sipil.

"Saya ingin tahu secara langsung kemacetan di Jakarta di mana saja, kapan dan kenapa. Kalau kita sudah mengenali, kita baru menguasai. Jadi sebelum bicara kemacetan, saya harus tahu persis permasalahannya," urai Peter saat ditemui di kantor taksi Express Group, Jl Sukarjo Wiryopranoto nomor 11, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2015).

Peter menjelaskan, dengan menjadi sopir taksi, ia mengetahui secara detil di mana saja titik kemacetan di Jakarta. Bahkan menurutnya ada 700 lebih simpul lalu lintas yang salah di Jakarta sehingga menyebabkan kemacetan semakin tak terhindarkan.

"Pemprov DKI tentu memiliki kajian soal macet, NTMC Polri melakukan pemantauan, ini sangat bagus. Tapi kita kan butuh solusi. Saya berharap bahwa problem transportasi harus diselesaikan secara menyeluruh, sehingga semua stakeholders harus dilibatkan," ujar pria beranak 3 ini.

Peter mengaku kerap membawa laptop di dalam taksinya untuk menyimpan data-data kemacetan yang ia ketahui. Selain itu menurutnya, dengan menjadi sopir taksi, ia tahu apa yang dipikirkan oleh masyarakat tentang kemacetan di Jakarta.

"Saya bisa komunikasi dengan penumpang jadi saya tahu persis bagaimana orang-orang itu berpikir. Kalau pakai konsultan, kan pemerintah mesti order. Jadi kalau saya beri usulan kepada pemerintah DKI, saya punya landasan kuat," urainya.

Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Bandung ini mengaku awalnya mendapat penolakan dari keluarga dan orang-orang terdekatnya terkait pilihan pekerjaannya tersebut. Pasalnya, jika dibanding dengan pekerjaan sebelumnya yaitu sebagai konsultan bidang air dan transportasi, penghasilan sebagai sopir taksi berbeda cukup jauh.

"Ya mereka (keluarga) menentang sebetulnya. Ini pekerjaan nggak ada duitnya. Tapi kan tujuan saya tidak sekedar menjadi sopir, ada alasan lain," ujar pria lulusan Technische Hochschule Darmstadt, Jerman ini. (Di bawah ini foto Peter (tengah) saat berkuliah di Jerman).

Lagipula, dalam 4 tahun terakhir sebelum menjadi sopir taksi, bisa dibilang Peter tak memiliki penghasilan. Ia bahkan menjual rumahnya untuk membiayai hidup dirinya dan keluarga.

"Jadi sekarang saya ngontrak rumah di Serpong," kata Peter.

Peter berencana tak akan lama lagi menjadi sopir. Jika kajiannya sudah cukup, ia akan mengajukannya kepada Pemprov DKI Jakarta.

Peter Yan Diapresiasi Lebih Oleh Penumpang


Peter Yan (58), seorang WNI lulusan Jerman kini memilih pekerjaan sebagai sopir taksi. Profesi ini telah ia lakoni selama setengah tahun. Banyak pengalaman menarik yang ia dapatkan selama mengemudikan taksi Eagle bernopol B 7423 KTG ini.

Salah satunya adalah ketika ia mendapat penumpang warga negara Vietnam. Perempuan yang membawa 2 anak itu kaget dengan kelancaran Peter berkimunikasi dengan Bahasa Inggris hingga memberinya upah berkali lipat dari yang seharusnya dibayarkan.

"Dia naik dari Plaza Senayan ke apartemen di Permata Hijau. Dia kaget saya bicara Bahasa Inggris lancar. Kami ngobrol, dan saya bilang dia cantik seperti Celine Dion," kata Peter diiringi tawa di kantor taksi Express Group, Jl Sukarjo Wiryopranoto, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2015).

Perempuan tersebut kemudian menanyakan berapa penghasilannya sebagai sopir taksi di Indonesia. Kala itu, kata Peter, sistem pemberian upah di Express Group menggunakan sistem setor, di mana setiap harinya sang sopir harus menyetor dengan jumlah tertentu kepada perusahaan.

"Tiba-tiba setelah turun, dia kasih saya Rp 300 ribu. Katanya supaya saya tidak kerja lagi hari itu. Kagetlah saya. Itu sangat kebanyakan karena harusnya cuma Rp 15 ribu," kata pria bergelar Dipl-Ing ini.

Peter mengaku heran sekaligus senang. Sepanjang jalan ia berpikir mengapa penumpang tersebut begitu bermurah hati.

"Jangan-jangan karena saya bilang dia mirip Celine Dion. Ah seperti anak muda saja saya ini," seloroh pria beranak 3 ini. Pengalaman lain, Peter mengaku pernah mendapat penumpang yang merupakan istri temannya. Ibu tersebut kaget melihat Peter yang mengemudikan taksi yang akan ditumpanginya.

"Dia kaget dan tanya kenapa (jadi sopir taksi)," kata pria yang merupakan dosen tamu pengajar S2 di Universitas Tarumanegara ini.

Aji Prasetyo, salah seorang dosen di Malang menjadi sosok yang terkesan dengan Peter. Bahkan dia memposting testimoni soal pria yang menjadi dosen tamu di Universitas Tarumanegara tersebut di facebook-nya.

Kejadian semacam itu, kata Peter tak hanya terjadi satu-dua kali. Namun tak sedikit juga yang mengapresiasi langkahnya menjadi sopir taksi dan misinya menguasai penyebab kemacetan di Jakarta.

"Kita memang mempunyai dilema menjadi sopir taksi. Karena di Indonesia, sopir taksi memiliki image yang relatif tidak tinggi. Tapi menurut saya ini tidak perlu dipermasalakan," tuturnya bijak.


Cara Cepat Hamil Alami Rahasia Dokter

Like dan share ya sobat...
Link Artikel: http://beritainfosehat.blogspot.com/2015/05/foto-kisah-lengkap-peter-yan-supir.html
Rating Artikel: 100% based on 9999 ratings. 99 user reviews.

[Foto] Kisah Lengkap Peter Yan Supir Taksi Pintar Bahasa Jerman Inggris Lulusan Teknik Sipil Jerman

Posted by Berita Info Sehat, Published at 12:58 AM and have 0 comments
Comments :

No comments:

Post a Comment